Suatu perilaku juga baru dapat dikatakan sebagai bullying apabila terdapat ketidakseimbangan kekuatan antara pihak yang melakukan bullying dengan pihak yang mendapat perlakuan bullying. Artinya pihak pelaku memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan korban.
Perilaku bullying sendiri terdiri dari beberapa bentuk, antara lain bullying secara fisik, verbal, sosial, dan seksual. Apapun bentuk bullying yang dilakukan, akan selalu berdampak bagi orang yang mengalaminya, baik itu seorang yang mendapatkan bully-an (korban) maupun yang mem-bully (pelaku).
Perilaku bullying sudah seharusnya dihentikan atau dicegah agar tidak terjadi lagi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku bullying penting untuk diperhatikan agar dapat diketahui bagaimana dan apa yang menyebabkan perilaku bullying terjadi.
Faktor yang berasal dari sekolah dapat dianggap sebagai posisi kunci yang membantu dalam memahami dinamika dari siswa yang melakukan bullying agar dapat diketahui strategi efektif untuk menghindari dan melakukan intervensi terhadap perilaku bullying siswa.
Apa Penyebab Timbulnya Penindasan?
Dalam banyak kasus, tahun-tahun perkembangan si penindas dirusak oleh contoh buruk orang tua atau sama sekali diabaikan orang tua. Banyak penindas berasal dari rumah tangga yang orang tuanya dingin, atau masa bodoh, atau, pada dasarnya, mengajar anak-anak mereka untuk menggunakan amarah dan kekerasan guna mengatasi problem. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan seperti itu mungkin tidak menganggap serangan verbal atau agresi fisik mereka sebagai penindasan; mereka mungkin malah mengira bahwa perilaku mereka normal dan berterima.
Seorang gadis berusia 16 tahun yang telah ditindas di rumah oleh ayah tirinya dan di sekolah oleh sesama siswa mengatakan bahwa dia menjadi seorang penindas sewaktu di SMP kelas 1. Ia mengakui, ”Pada dasarnya, ada begitu banyak rasa marah yang tertimbun dalam diri saya; saya menindas setiap orang dan siapa saja. Perasaan sakit memiliki dampak yang besar. Sekali Anda merasakan sakit itu, Anda ingin melampiaskannya kepada orang lain.” Meskipun agresi fisik mungkin bukan ciri khas gadis penganiaya, tetapi kemarahan di balik tindakannya tetap merupakan ciri khasnya.*
Banyak sekolah memiliki sejumlah besar siswa dari berbagai latar belakang, yang telah dibesarkan dengan cara yang sangat bervariasi. Sungguh menyedihkan, beberapa anak bersikap agresif karena mereka telah diajar di rumah bahwa mengintimidasi dan mengumpat orang lain adalah cara terbaik untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Sayangnya, metode semacam itu sering kali berhasil. Shelley Hymel, anggota dekan pendidikan di University of British Columbia, Kanada, telah meneliti perilaku anak selama dua dekade. Ia mengatakan, ”Ada anak-anak yang mencari tahu cara mendapatkan apa yang mereka inginkan dan sayangnya, penindasan ternyata efektif. Mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan—mereka mendapat kekuasaan, status, dan perhatian.”
Faktor lain yang turut menyebarluaskan penindasan ialah kurangnya pengawasan. Banyak korban merasa bahwa mereka tidak punya tempat untuk meminta pertolongan—dan tragisnya, dalam kebanyakan kasus, begitulah keadaannya. Debra Pepler, direktur Pusat Riset LaMarsh atas Kekerasan dan Penuntasan Konflik di York University, Toronto, meneliti para siswa dalam suasana halaman sekolah dan mendapati bahwa hanya sekitar 4 persen insiden penindasan yang dideteksi dan dihentikan para guru.
Namun, Dr. Pepler yakin bahwa intervensi adalah tindakan yang krusial. Ia mengatakan, ”Anak-anak tidak sanggup mengatasi problem karena ini adalah soal kekuasaan, dan setiap kali seorang penindas mengganggu seseorang, kekuasaan si penindas pun bertambah.”
Kalau begitu, mengapa tidak terlalu banyak kasus penindasan yang dilaporkan? Karena para korban penindasan yakin bahwa jika mereka melaporkannya, problem itu hanya akan memburuk. Oleh karena itu, hingga taraf tertentu, banyak kaum muda menghabiskan masa sekolah mereka dalam keadaan yang selalu resah dan tidak aman. Apa saja dampak menjalani kehidupan semacam itu?
Dalam kebudayaan populer
Penindasan atau perisakan seringkali dijadikan tema cerita dalam berbagai karya, baik karya cetak maupun elektronik seperti film, FTV, atau sinetron. Biasanya yang diangkat adalah penindasan antar remaja dan berlatar di lingkungan sekolah Beberapa judul karya seni yang mengangkat tema ini antara lain:
- Beck - serial manga dan anime tentang musik karangan Harold Sakuishi, pada bagian awalnya karakter utama adalah korban perundungan.
- Gajah - salah satu lagu milik Tulus yang menceritakan tentang masa lalu seseorang yang menjadi korban perundungan.
- Ekskul - film Indonesia tahun 2006
- Juara - film Indonesia tahun 2016
Dampak Fisik dan Emosi
Sebuah laporan dari Asosiasi Nasional Psikolog Sekolah di Amerika Serikat mengatakan bahwa setiap hari lebih dari 160.000 anak bolos sekolah karena mereka takut ditindas. Para korban penindasan mungkin tidak lagi membicarakan sekolah atau mata pelajaran atau kegiatan tertentu di sekolah. Mereka mungkin mencoba pergi terlambat ke sekolah setiap hari atau bolos mata pelajaran atau bahkan membuat dalih untuk bolos sekolah sama sekali.
Bagaimana anak-anak yang sedang ditindas dapat diidentifikasi? Nah, mereka mungkin menjadi murung, lekas marah, frustrasi, atau bertingkah lesu dan tertutup. Mereka dapat menjadi agresif dengan orang-orang di rumah atau dengan teman sebaya dan sahabat. Orang tidak bersalah yang menyaksikan aksi penindasan juga menderita konsekuensinya. Situasi itu menyebabkan rasa takut yang cukup besar dalam diri mereka, sehingga mengurangi kesanggupan mereka untuk belajar.
Akan tetapi, jurnal Pediatrics in Review mengatakan, ”Konsekuensi paling ekstrem dari penindasan bagi para korban dan masyarakat ialah tindak kekerasan, termasuk bunuh diri dan pembunuhan. Rasa tidak berdaya yang dialami anak-anak yang menjadi korban dapat teramat dalam sehingga beberapa anak bereaksi dengan tindakan yang merusak diri atau pembalasan dendam yang memautkan.”
Dr. Ed Adlaf, seorang ilmuwan peneliti sains dan profesor kesehatan umum di University of Toronto, menyatakan kerisauan bahwa ”orang-orang yang terlibat dalam penindasan lebih besar kemungkinan mengalami kesulitan emosi sekarang dan di masa depan”. Selama tahun ajaran 2001, lebih dari 225.000 siswa di Ontario disurvei, dan antara seperempat dan sepertiga dari mereka terlibat dalam suatu bentuk penindasan, entah sebagai sasaran entah sebagai pelaku. Dalam kelompok yang sama, 1 dari 10 orang telah dengan serius memikirkan untuk bunuh diri.
Penindasan yang terus-menerus dapat mengikis kepercayaan diri seorang korban, menyebabkan problem kesehatan yang serius, dan bahkan merusak karier. Para korban penindasan dapat mengalami sakit kepala, tidak bisa tidur, khawatir, dan depresi. Ada yang mengalami gangguan stres pascatrauma. Meskipun serangan fisik dapat membuat sang korban dilimpahi dukungan yang simpatik, serangan emosi mungkin tidak membangkitkan respons yang sama. Kerusakannya sangat tidak kelihatan. Jadi, bukannya bersimpati, teman-teman dan keluarga mungkin bosan mendengar keluhan sang korban.
Penindasan juga berdampak buruk atas para penindas itu sendiri. Jika tidak dihentikan semasa kecil, kemungkinan besar sewaktu dewasa, mereka menindas orang lain di tempat kerja. Malah, beberapa penelitian menyingkapkan bahwa orang-orang yang pernah menjadi penindas semasa anak-anak mengembangkan pola perilaku yang bertahan hingga dewasa. Mereka juga lebih besar kemungkinannya memiliki catatan kriminal daripada orang-orang yang bukan penindas.
Penanganan
- Paling ideal adalah apabila ada kebijakan dan tindakan terintegrasi yang melibatkan seluruh komponen mulai dari guru, murid, kepala sekolah, sampai orangtua, yang bertujuan untuk menghentikan perilaku bullying dan menjamin rasa aman bagi korban.
- Program anti-bullying di sekolah dilakukan antara lain dengan cara menggiatkan pengawasan dan pemberian sanksi secara tepat kepada pelaku, atau melakukan kampanye melalui berbagai cara. Memasukkan materi bullying ke dalam pembelajaran akan berdampak positif bagi pengembangan pribadi para murid.
Pencegahan
- Untuk mencegah dan menghambat munculnya tindak kekeraran di kalangan remaja, diperlukan peran dari semua pihak yang terkait dengan lingkungan kehidupan remaja.
- Sedini mungkin, anak-anak memperoleh lingkungan yang tepat. Keluarga-keluarga semestinya dapat menjadi tempat yang nyaman untuk anak dapat mengungkapkan pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaannya. Orang tua hendaknya mengevaluasi pola interaksi yang dimiliki selama ini dan menjadi model yang tepat dalam berinteraksi dengan orang lain.
- Berikan penguatan atau pujian pada perilaku pro sosial yang ditunjukkan oleh anak. Selanjutnya dorong anak untuk mengambangkan bakat atau minatnya dalam kegiatan-kegiatan dan orang tua tetap harus berkomunikasi dengan guru jika anak menunjukkan adanya masalah yang bersumber dari sekolah.
- Selama ini, kebanyakan guru tidak terlalu memperhatikan apa yang terjadi di antara murid-muridnya. Sangat penting bahwa para guru memiliki pengetahuan dan ketrampilan mengenai pencegahan dan cara mengatasi bullying.
- Kurikulum sekolah dasar semestinya mengandung unsur pengembangan sikap prososial dan guru-guru memberikan penguatan pada penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Sekolah sebaiknya mendukung kelompok-kelompok kegiatan agar diikuti oleh seluruh siswa. Selanjutnya sekolah menyediakan akses pengaduan atau forum dialog antara siswa dan sekolah, atau orang tua dan sekolah, dan membangun aturan sekolah dan sanksi yang jelas terhadap tindakan bullying.
- Jangan anggap remeh Masih banyak orangtua yang menganggap kakak kelas mengintimidasi adik kelas sebagai sebuah tradisi, demikian juga perlakuan kasar yang diterima anak dari temannya sering diabaikan karena akan berlalu seiring dengan waktu. Saatnya untuk mengubah pandangan tersebut. Jalin komunikasi yang dalam dengan anak, berilah perhatian lebih bila anak tiba-tiba murung dan malas ke sekolah.
- Ajari anak untuk melindungi dirinya Ajari anak untuk bersikap self defense dalam arti menhindari diri dari korban atau pelaku kekerasan. Katakan kepadanya, “Kalau kamu dipukul temanmu, kamu harus memberitahukan kepada Ibu Guru.” Bukan malah mengajarkan perilaku membalas atau menggunakan kekuatan dalam mempertahankan diri. Selain itu, ajarkan pula untuk bersikap asertif atau mengatakan “tidak” terhadap hal-hal yang memang seharusnya tidak dilakukan. Selain itu, jangan biasakan anak membawa barang mahal atau uang berlebih ke sekolah karena bisa berpotensi menjadi incaran pelaku bullying. Pupuk kepercayaan diri anak, misalnya dengan aktif mengikuti kegiatan ekskul.
- Bina relasi dengan guru dan orangtua murid Bina relasi dan komunikasi yang baik dengan guru di sekolah atau orangtua murid lainnya. Anda bisa mendapatkan informasi adanya kasus bullying atau melaporkan kepada guru bila si kecil bercerita mengenai temannya yang dipukul, misalnya.
Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Penindasan
https://www.lentera.my.id/post/pengertian-bullying-penindasan/
https://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/102003602
http://www.sudahdong.com/bullying-di-sekolah/penanganan-dan-pencegahan/
